KataMini

KataMini

Kamis, 07 Juli 2011

Membaca "Apa Sebenarnya Indonesia" dalam Sepuluh Cerita Pendek

Meminjam sebuah pertanyaan Max Lane[1], “apa Indonesia, sebenarnya?” Pertanyaan ini sebenarnya adalah salah sebuah materi yang diutarakan oleh beliau dalam kuliah umumnya tentang “Pertanyaan-pertanyaan Politik yang Mengganggu: Soekarno-Pramoedya dan Signifikasi Kebangsaan Kini” di FIB UI, Depok. Dalam kuliahnya pada tanggal 30 Juni 2011 tersebut, Lane mencoba mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan mengganjal seputar peta perpolitikan yang dilakukan oleh Soekarno. Beliau juga mencoba memetakan pertanyaan, “kenapa novel-novel Pramoedya Ananta Toer dilarang beredar semasa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru?” Selain kedua hal tersebut, Lane juga memerikan pandangannya terhadap signifikasi kebangsaan Indonesia kini. Menurutnya, signifikasi kebangsaan Indonesia kini hanya “nol”, karena memang merupakan sebuah warisan dari belum rampungnya—dengan apa yang diistilahkan oleh Soekarno—nation creation dan nation building.
Kembali kepada pertanyaan awal, “apa Indonesia, sebenarnya?” Sekarang kita coba petakan perlahan, karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer sebagai contoh—supaya tak terlalu jauh—khususnya Tetralogi Pulau Buru. Toer tak pernah sekalipun menuliskan kata “Indonesia” di dalamnya. Namun, setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, “Indonesia” dan “merdeka” selalu dikumandangkan di seantero Negeri. Pada akhirnya saya juga ingin bertanya—kepada siapa saja tentunya—“apa Indonesia sebenarnya?” Sebab Ali Moertopo, seorang menteri di rezim Orde Baru, sempat mengonsepsikan Indonesia, yang berarti “sebuah rumpun budaya yang memiliki identitas kebudayaannya masing-masing.” Jika demikian, berarti Indonesia hanyalah sebuah atap Minangkabau yang berbentuk meruncing pada tiap-tiap ujungnya, ataupun blangkon dan jarik yang digunakan oleh sebagian besar etnis Jawa?[2] Atau dari sudut pandang Boehmer, bahwa Indonesia—dalam hal ini sebuah bangsa yang sempat dijajah oleh bangsa kolonial—adalah sebuah bangsa yang rindu akan identitas dan terus mencari bentuk bangsa yang dianggap tepat.[3] Apakah kedua hal tersebut sudah dapat menggambarkan Indonesia?   
Indonesia dan Manusia-nya, pada kesempatan kali ini dibaca oleh sepuluh kepala dan sepuluh pasang mata. Mereka mencoba memerikan hasil investigasi hasil bergelut dengan Indonesia. Dan hasil investigasi tersebut dirangkum dalam sepuluh cerita pendek yang bertemakan “Manusia Indonesia”. Sepuluh cerita pendek yang dirangkum tersebut dapat dikatakan merunut dua konsepsi yang telah disebutkan sebelumnya, yakni ”sebuah rumpun budaya yang memiliki identitas kebudayaannya masing-masing” dan “sebuah bangsa yang rindu akan identitas dan terus mencari bentuk bangsa yang dianggap tepat”.
Sepuluh cerita pendek tersebut adalah hasil penyaringan dari ratusan cerita pendek yang masuk ke email mini.kata1@gmail.com. Dalam kegiatan perangkuman hasil investigasi ini tentunya disertai dengan berbagai latar belakang penulis dalam memandang “Manusia Indonesia”. Mereka menjadi pilihan akhir dari ratusan yang masuk karena memang sesuai dengan tema yang ditentukan: “Manusia Indonesia. Mereka—sepuluh cerita pendek yang terpilih—dapat merekam dengan “unik” Indonesia dan Manusia-nya. Bukan bermaksud mengatakan cerita pendek yang lain—yang ratusan jumlahnya—tidak melakukan hal yang sama. Akan tetapi, narasi dan sudut pandang yang dipakai masih terlalu umum dan bias-a. Dari ratusan cerita pendek yang masuk, acapkali memakai sudut pandang ke-aku-an yang belum mengacu ke khusus, ataupun lebih mendalam lagi tentang apa itu Indonesia dan Manusia-nya. Dari segi narasi, ratusan cerita pendek yang masuk ke email mini.kata1@gmail.com, pun kebanyakan selalu mengulang beberapa teknik penulisan para penulis yang sudah populer, seperti Pramoedya Ananta Toer. Sebuah tindakan yang tidak dilarang memang, tapi akan menjadi sebuah persandingan yang “pelik” nantinya, jika di kepala para pembaca terkonstruksi tentang sebuah keadaan dan nilai seorang penulis terkenal.
Tulisan ini dibuka dengan ulasan kuliah umum dari Max Lane tentang Indonesia yang sempat diadakan di  Universitas Indonesia, tetapi hal tersebut hanyalah menjadi lompatan untuk berbicara tentang Indonesia dan Manusia-nya. Tema “Manusia Indonesia” sudah dipilih dari jauh-jauh hari, tujuannya memang untuk membuka berbagai kemungkinan yang dapat terjadi; seperti para penulis yang seringkali memerikan tentang pemahaman kebudayaannya masing-masing; ataupun memiliki hasrat yang kuat untuk mencari ke-pribadian-nya dengan menulis. Sejauh mana Indonesia dan manusia-nya di mata sepuluh penulis tersebut, sila menilai sendiri. Mungkin saja, Indonesia dan manusia-nya dapat menjadi lubang perangkap bagi siapa saja. Namun, tak dapat dipungkiri pula, mungkin saja dapat membuka wacana baru tentang “apa Indonesia sebenarnya?”
Selamat membaca.


[1] Seorang Professor dari Melbourne University, Australia, yang sejak 1969 telah berkecimpung seputar ke-Indonesiaan.
[2] Max Lane pada “Pertanyaan-pertanyaan Politik yang Mengganggu: Soekarno-Pramoedya dan Signifikasi Kebangsaan Kini”, tanggal 30 Juni 2011.
[3] Lihat penjelasan lebih lengkapnya di Ellek Boehmer, Colonial dan Postcolonial Literature, New York, Oxford University Press, 1995.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar