KataMini

KataMini

Kamis, 07 Juli 2011

Merayakan Anggur dengan Pencapaian Bahasa

Meidy Kautsar



Adalah hal yang perlu disampaikan bahwa sajak-sajak di sini dipilih pertama-tama karena bahasanya alih-alih ide. Perlu disampaikan juga bahwa ketika memilih puisi-puisi, nama dan biografi pengarang sudah dihilangkan terlebih dahulu agar tidak terjadi perilaku subjektif dalam penilaian, dan setelah puisi-puisi terpilih, barulah dicocokkan antara puisi dan nama yang membuatnya. Sebetulnya pekerjaan yang utama adalah mencari puluhan puisi yang bahasanya menakjubkan atau lebih kuat dibanding yang lain. Menjunjung bahasa sebagai anasir utama dalam penciptaan puisi, agaknya sejalan dengan pendapat Mallarme yang berbunyi ‘poem not write by ideas, but by words’. Puisi-puisi yang ikut serta dalam sayembara ini mencapai ribuan, namun banyak di antara puisi itu yang bisa disisihkan tanpa dibaca tegas-tegas. Misalnya, puisi-puisi yang konsistensi penggunaan huruf kapital dan huruf kecilnya tidak jelas, puisi yang menggunakan singkatan, puisi dengan dialog dan bahasa yang tidak puitis sama sekali sehingga melelahkan untuk dibaca, puisi yang terlalu ringan dan ngepop, dan sebagainya.

Banyak juga yang mengirim puisi pamflet, yaitu puisi dengan muatan kritik terhadap pemerintah, agama, institusi tertentu, dan sebagainya. Dari sekian banyak puisi pamflet yang masuk, telah disisihkan puisi-puisi pamflet yang kandungan kritiknya paling tidak jelas atau yang hanya berupa omelan. Sekali lagi, bahasa, dalam penciptaan puisi, kedudukannya sangat penting. Dan dalam antologi ini, telah dikumpulkan lima puluh puisi yang dianggap memiliki bahasa paling matang dibanding ribuan puisi lainnya. Puisi-puisi di sini berasal dari penulis dari berbagai daerah di Indonesia, dengan profesi berbeda, dan dengan jenis puisi yang memiliki perbedaan juga: ada puisi romantisisme, ekspresionistik, pamflet, liris, sufistik, mbeling, gelap, atau mungkin jenis lain.

Ada sebuah keimpresifan yang menyenangkan, dan interjeksi yang melengkapi, yang datang dari sajak berjudul ‘Penyair Anggur’. Sajak ini mengingatkan saya kepada sajak “Dongeng Anjing Api’ Sindu Putra, seorang penyair yang dianugerahi KLA tahun 2010—sebuah sajak yang membuat pembacanya berlari dalam arus kata-kata, seperti gelombang yang mendorong pembaca untuk hanyut begitu cepat sampai ujung puisi. Anggur telah menjadi kata yang unik, menimbulkan tafsir yang berliku, dan telah sewajarnyalah anggur menjadi kata yang rumit sebab anggur memiliki nuansa sufi dan romantis sekaligus. Puisi karya Viddy AD Daery ini padat dan ambisius : menunjukkan integritas penulisan yang keras dan tajam.

Penyair anggur

Tigris ! Tigris !
ini aku datang : sang musafir
membaca habis Babilon
bersujud di padang pasir
ini sebuah pesta
kularutkan ke arusmu
anggur dan air mataku
engkau yang tenang menghanyutkan
bawalah aku ke hilir lalu ke hulu
...


Selain itu, ada puisi-puisi karya Amal Bayu Ramadhan yang berjudul ‘Suara Alarm yang Membangunkanku di Tanggal 31 Ketika Aku Sedang Bermimpi Menirukan Suara Burung yang Tertembak oleh Pistol Airmu’, ‘Tentang Suatu Gerangan yang Suka Lalu-lalang di Ruangan Ketika Aku Sendirian’, dan ‘Soledad Dua Pecumbu Sepi’: puisi-puisi ini juga impresionistik: meninggalkan sebuah kesan yang dalam dan berkepanjangan. Dalam sejumlah bait, saya teringat Sapardi dan Goenawan Mohamad. Puisi-puisi ini dibangun dengan kata-kata yang teramat panjang, namun tetap menyenangkan untuk dibaca sampai akhir. Begitu individualis, dan betapa puisi ini tidak mau menjadi puisi yang mewakili orang lain secara pas karena perincian suasana dan waktunya. Barangkali cara berpuisi seperti yang diciptakan oleh Amal Bayu Ramadhan ini, dan puisi Viddy AD Daery, adalah cara berpuisi yang akan banyak digunakan dalam perpuisian Indonesia di masa datang.

Puisi romantis seperti ‘Kau Adalah Laut’ yang ditulis oleh Isbedy Stiawan, seorang yang sudah dikenal di Indonesia sebagai sastrawan, juga tidak luput menarik perhatian. ‘Kau Adalah Laut’ adalah cara berpuisi yang tidak baru, sebuah stilistika romantis yang umumnya digunakan oleh orang yang ingin membuat puisi. Hanya saja, Isbedy tidak membangun puisinya dengan pilihan kata yang remeh. ‘Kau Adalah Laut’ merupakan puisi mengenai aku-lirik yang begitu dalam menafsirkan sosok engkau. Penafsiran mengenai sosok engkau, yang dimetaforakan menjadi laut dan anasir-anasir lainnya, menjadikan puisi ini sebagai puisi romantisisme yang begitu murni, dan dari puisi-puisi romantisisme di antologi ini, Isbedy adalah yang terdepan.

Kau Adalah Laut

kau adalah laut. gelombang yang cepat menuju pantai
dan pulang lagi ke maha luas biru. memainkan kapal-kapal,
menikam pelaut hingga ke dasar karang. menghapus namanama
atau setiap kenangan


Ada juga puisi ‘Aku Mencintaimu’ dan ‘Mutiara Negeri Selatan’ yang juga mengandung nilai-nilai romantis, yang jika dibaca akan menimbulkan kesenangan-kesenangan akan kalimat yang penuh cinta. Banyak juga puisi yang tidak dimuat dalam antologi kali ini adalah puisi berjenis romantisisme, sebab puisi romantis seringkali terjatuh pada kemenye-menyean cinta, sehingga bahasa puisi pun terlalu dangkal, sementara pesan cintanya pun tidak lebih baik dari bahasanya. Puisi yang seperti itu menjadi tidak penting karena telah secara langsung menunjukkan kemampuan bahasa pembuat puisinya yang masih rendah. Puisi yang baik adalah puisi yang mengandung banyak makna, muatan, dan berbahasa indah. ‘Anak-anak dalam Bayang’ misalnya, adalah puisi yang memainkan narasi dan menjadikan narasi sebagai senjata untuk memperkaya makna. Narasi yang meliuk-liuk seperti ini mengingatkan saya kepada puisi-puisi Sapardi yang liris namun kadang terasa kabur dan membingungkan.

Anak-anak dalam Bayang

aku dan kau hanya tersenyum. mengingat masa lalu saat
gambar bersama sebelum pluit bunyi dan kereta mengerang
untuk meninggalkan pengantar yang menyimpan kenangan

di gambar itu aku merapat padamu. kau makin mendekat
lalu tanganmu yang lain menjepret dengan handphone mahal pula
"perlu ada kenangan sebelum hilang sama sekali," kataku
"aku justru ingin mengabadikan dengan ini," jawabmu


Kemudian, yang juga mewarnai antologi ini, adalah puisi mbeling. Terkadang puisi mbeling memiliki muatan tafsiran yang lebih luas daripada puisi romantisisme, atau setidaknya : puisi mbeling memiliki celah tafsir yang unik dibanding puisi-puisi lainnya. Dalam antologi ini ada puisi mbeling berjudul ‘Balada Feminisme Media’, ‘( . )(   )’, ‘Sajak Bau’, dan ‘Wig Gayus’. Puisi mbeling ini mengangkat isu yang sering diangkat oleh puisi mbeling pada umumnya : moral, gender, dan politik. Puisi semacam ini adalah antitesis dari puisi-puisi individualis dan impresionistik yang telah dibahas di atas. Jika puisi individualis mengedepankan keeksotisan, maka puisi yang mengangkat tema sosial (termasuk puisi mbeling) mengedepankan kelucuan, kesatiran, dan juga prioritas kritik yang seringkali disampaikan tersurat.

Dalam antologi ini, Penyair Anggur dianggap sebagai puisi yang dapat mewakili semua puisi yang ada: puisi ini mabuk, agamais, sufistik, ekspresionistik, romantis, dan gelap. Dalam kandungan kata-katanya, ada sebuah kritik yang begitu tersirat, dan oleh karena itulah puisi ini menjadi memukau. Dalam kandungan kata-katanya juga, ada sebuah pencapaian pesan yang beragam: bagaimana cara seseorang menafirkan sebuah puisi mengenai Tigris, Babilon, dan nama-nama asing lainnya itu? Sudah saatnya puisi yang memiliki kegelapan menjadi wakil dari puisi romantis dan pamflet, sebab zaman semakin maju dan kegelapan semakin jelas terlihat dalam kehidupan kita. Saya pikir, antologi puisi ini akan sangat berguna jika puisi-puisi di dalamnya berbahaya—mampu merasuk ke dalam kontemplasi orang yang membacanya dan membekas di ingatan.

3 komentar:

  1. mana tema umumnya? kok tidak nyambung dengan tulisan yang lain?

    katanya ada sayembara puisi dan cerpen bertema
    MANUSIA INDONESIA

    kok jadi kayak tugas kuliah tulisannya?

    BalasHapus
  2. baca dulu wittgenstein, gadamer, foucoult dengan baik dulu sebelum ngomong masalah bahasa.

    BalasHapus